Just another WordPress.com site
ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN May 16, 2011
entin.ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN
- Pengertian Aliran-Aliran Pendidikan
Aliran-aliran pendidikan adalah
pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan.
Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan,
yakni pemikiran-pemikirn terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang baru, dan demikian seterusnya. Agar
diskusi berkepanjangan itu dapat dipahami, perlu aspek dari
aliran-alira itu yang harus dipahami. Oleh karena itu setiap calon
tenaga kependidikan harus memahami berbagai jenis aturan-aturan
pendidikan. Dalam dunia pendidikan setidaknya terdapat 3 macam aliran
pendidikan, yaitu aliaran klasik, aliran modern dan aliran pendidikan
pokok di Indonesia.
-
Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan
Menurut Tim dosen 2006, aliran-aliran klasik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
- Aliran Empirisme
Aliran ini menganut paham yang
berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia
dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui
alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya
maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan
secara langsung (Joseph, 2006).
Jadi segala kecakapan dan
pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman.
Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui
indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk
perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.
John Locke (dalam Joseph: 2006) tak
ada sesuatu dalam jiwa yang sebelumnya tak ada dalam indera. Ini berarti
apa yang terjadi, apa yang mempegaruhi apa yang membentuk perkembangan
jiwa anak didik adalahlingkungan
melalui pintu gerbang inderanya yang berarti tidak ada yang terjadi
dengan tiba-tiba tanpa melalui proses penginderaan.
- Aliran Nativisme.
Teori ini merupakan kebalikan dari
teori empirisme, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki
pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh
pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi
apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi
jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang
diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak
dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.
- Aliran Konvergensi.
Faktor pembawaan dan faktor lingkungan
sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat
dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa
pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembaeaan baik dan
pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan
bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai
dengan pembawaan tersebut.
William Stern (dalam Tim Dosen 2006:
79) mengatakan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dari
lingkugan yang keduanya merupakan sebagaiman dua garis yang bertemu atau
menuju pada satu titik yang disebut konvergensi.
Dari beberapa uraian diatas, teori
yang cocok dapat diterima sesuai dengan kenyataan adalah teori
konvergensi, yang tidak mengekstrimkan faktor pembawaan, faktor
lingkungann atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak,
melainkan semuanya dari faktor-faktor tersebut mempengaruhi terhadap
perkembangan anak.
- Aliran Naturalisme.
Aliran ini mempunyai kesamaan dengan
teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai
perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa
anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat
minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan
akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami, bukan lingkungna yang
dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan diartikan sebagai usahan
sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan,
mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kea rah
tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek
terhadapperkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan
anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak
dibuat-buat (alami) makan pendidikan yang dimaksud terakhir ini
betrpengaruh positif terhadap perkembangan anak.
C. Aliran pendidikan moderen di Indonesia
Menurut Mudyahardjo (2001: 142) macam-macam aliran pendidikan modern di Indonesia adalah sebagai berikut:
- Progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).
- Tujuan pendidikan dalam aliran ini
adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis,
mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai
tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya
bakat dan minat setiap anak.
- Kurikulum pendidikan Progresivisme
adalah kurikulum yang berisi pengalaman-pengalaman atau
kegiatan-kegiatan belajar yang diminati oleh setiap peserta didik (experience curriculum).
- Metode pendidikan Progresivisme antara lain:
- Metode belajar aktif.
- Metode memonitor kegiatan belajar.
- Metode penelitian ilmiah
- Pendidikan berpusat pada anak.
Pendidikan Progresivisme menganut
prinsip pendidikan berpusat pada anak. Anak merupakan pusat adari
keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. Pendidikan Progresivisme
sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam pendidikan. Anak
bukanlah orang dewasa dalam betuk kecil. Anak adalah anak, yang sangat
berbeda dengan orang dewasa. Setiap anak mempunyai individualitas
sendiri-sendiri, anak mempunyai alur pemikiran sendiri, anak mempunyai
keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan sendiri, yang
berbeda dengan orang dewasa. Dengan demikian, anak harus diperlakukan
berbeda dari orang dewasa.
- Esensialisme
Esensialisme modern dalam pendidikan
adalah gerakan pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap
nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut
esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya/sosial adalah
nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan
melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan di dalamnya
berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam
perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi
kegiatan-kegiatan di kelas.
- Tujuan pendidikan dari aliran ini
adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti
pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu
dan dengan demikian adlah berharga untuk diketahui oleh semua orang.
Pengetahuan ini diikuti oleh ketrampilan. Ketrampilan, sikap-sikap dan
nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah
pendidikan Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang
tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
- Metode pendidikan:
- Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered).
- Peserta didik dipaksa untuk belajar.
- Latihan mental
- Kurikulum berpusat pada mata
pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok.
Kurikulum sekolah dasar ditekankan pada pengembangan ketrampilan dasar
dalam membaca, menulis, dan matematika.Sedangkan kurikulum pada sekolah
menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu
kealaman, serta bahasa dan sastra.
- Rekonstruksionalisme
Rekonstruksionalisme memandang
pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung
terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya
pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di
masyarakat
Sekolah-sekolah rekonstruksionis
berfungsi sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan sosial,
ekonomi dan politik dalam masyarakat. Tujuan pendidikan rekonstruksionis
adalah membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah
sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala
global, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-keterampilan yang
diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
- Kurikulum dalam pendidikan
rekonstruksionalisme berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada
kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum banyak berisi
masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusia.
Yng termasuk di dalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik
sendiri, dan program-program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah.
- Perennialisme
Perennialisme adalah gerakan
pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan
bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman
kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan
dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang
tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir
secara induktif. Jadi dengan berpikir, maka kebenaran itu akan dapat
dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama
adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan.
Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu
mengenal dan memahami faktor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan
dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya.
Diharapkan anak didik mampu mengenal
dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan
disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa
lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat
menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi,
matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, telah banyak
memberikan sumbangan kepada perkembangan zaman dulu.
- Kurikulum berpusat pada mata pelajaran dan cenderung menitikberatkan pada sastra, matematika, bahasa dan sejarah.
- Idealisme
Aliran idealisme merupakan suatu
aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah
gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di
antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh
panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu
angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap
bahwa yang nyata hanyalah idea. Tugas ide adalah memimpin budi manusia
dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai
ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan
sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala
sesuatu yang dialami sehari-hari.
Para murid yang menikmati pendidikan
di masa aliran idealisme sedang gencar-gencarnya diajarkan, memperoleh
pendidikan dengan mendapatkan pendekatan (approach)
secara khusus. Sebab, pendekatan dipandang sebagai cara yang sangat
penting. Para guru tidak boleh berhenti hanya di tengah pengkelasan
murid, atau tidak mengawasi satu persatu muridnya atau tingkah lakunya.
Seorang guru mesti masuk ke dalam pemikiran terdalam dari anak didik,
sehingga kalau perlu ia berkumpul hidup bersama para anak didik. Guru
jangan hanya membaca beberapa kali spontanitas anak yang muncul atau
sekadar ledakan kecil yang tidak banyak bermakna.
Pola pendidikan yang diajarkan
fisafat idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya
berpusat dari anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat,
melainkan berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan menurut paham
idealisme terbagai atas tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan untuk
masyarakat, dan campuran antara keduanya.
Agar anak didik bisa menjadi kaya dan
memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis dan
penuh warna, hidup bahagia, mampu menahan berbagai tekanan hidup, dan
pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup
lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial
adalah perlunya persaudaraan sesama manusia. Karena dalam spirit
persaudaraan terkandung suatu pendekatan seseorang kepada yang lain.
Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya, namun hubungan manusia
yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam hubungan kemanusiaan yang
saling penuh pengertian dan rasa saling menyayangi.
Kurikulum yang digunakan dalam
pendidikan yang beraliran idealisme harus lebih memfokuskan pada isi
yang objektif. Pengalaman haruslah lebih banyak daripada pengajaran yang
textbook. Agar supaya pengetahuan dan pengalamannya senantiasa aktual.
DAFTAR RUJUKAN
Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Redja Mudyaharjo. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Joseph Mbulu, dkk. 2005. Pengantar Pendidikan. Malang: Laboratorium Teknologi Pendidikan.
sumber dari: http://12entinfujirahayu.wordpress.com/2011/05/16/aliran-aliran-pendidikan/
0 komentar:
Posting Komentar